Hobi Mobil Kuno? Ayo Bergabung Dengan PPMKI

Di tag dibawah

Hobi mobil rasanya paling nyaman jika dilakukan bersama-sama. Tak ayal, komunitas-komunitas otomotif pun menjamur di mana-mana. Namun, tak hanya otomotif keluaran terbaru saja yang memiliki basis penggemar fanatik. Komunitas-komunitas mobil kuno seperti PPMKI pun tak kalah besar. Bahkan, belakangan ini tak sedikit generasi muda yang tertarik bergabung ke PPMKI.

PPMKI memiliki kepanjangan Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia. Komunitas mobil kuno terbesar di Indonesia ini sudah terbentuk sejak 13 November 1979, tepatnya sekitar 40 tahun yang lalu. Selain menaungi hobi mobil klasik para anggotanya yang kini tersebar di penjuru Indonesia, PPMKI juga rutin mengadakan touring dan ikut pameran otomotif. Tentu saja, padatnya kegiatan ini semakin mengukuhkan eksistensi PPMKI di mata dunia otomotif tanah air.

Mobil-mobil klasik yang ikut serta dalam kegiatan PPMKI pun beragam. Tak jarang, para anggotanya menggandeng mobil-mobil kuno legendaris sekelas: Fiat Borsalino (1925), Citroen Traction Avant (1934), atau Austin Seven (1936). Kemudian ada pula: Mercedes-Benz 320B (1937), BMW 327 (1939), Jaguar XK Cabrio (1952), Ford Thunderbird Cabrio (1956), dan masih banyak lagi. Semakin tua semakin cantik dan punya kenikmatan tersendiri saat merestorasi, kira-kira begitulah yang dirasakan para anggotanya.

“Saya hobi mobil klasik dari tahun 95. Saya pertama suka desainnya, belum suka bawanya. Tapi begitu saya restorasi, saya malah jatuh cinta dan suka bawanya. Perbedaannya antara mobil klasik dengan mobil baru. Kalau mobil baru harus ikutin supir. Kalau mobil tua, pemilik atau supir mesti ikutin mobil karena kita ngga bisa paksa mobilnya,” kata Jimmy Samsudin, pemilik mobil Chevrolet Bel Air keluaran tahun 1957, seperti dilansir dari Metrotvnews.com (04/05/2019).

Belakangan, PPMKI tidak lagi hanya bergelut dengan mobil-mobil vintage lansiran tahun 1970-an kebawah. Untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap mobil klasik, PPMKI kemudian anak-anak muda yang punya hobi mobil tahun 1980-an dan 1990-an. Sejak satu tahun belakangan, mobil-mobil yang populer di tahun 80-an seperti Mitsubishi Gallant, Mitsubishi Lancer SL, Mercedes Benz Tiger, Toyota Splinter tak pernah ketinggalan mejeng di acara PPMKI.

Untuk dapat bergabung PPMKI tentu saja tidak harus memiliki mobil. Syarat bergabung dengan PPMKI pun relatif mudah dan keanggotaannya tidak mengikat. Setiap anggota diperkenankan bergabung dengan lebih dari satu komunitas pecinta mobil, baik komunitas mobil modern maupun komunitas mobil kuno lainnya.

Lain halnya bagi calon anggota yang tidak memiliki mobil sendiri, mereka yang memiliki tunggangan klasik pribadi tetap wajib melengkapi beberapa syarat sebelum bergabung. Sebelum bergabung, calon anggota harus membuktikan bahwa mobil klasik yang diikutsertakan adalah benar-benar milik pribadi. Untuk itu, calon anggota dihimbau untuk memastikan kelengkapan surat-surat seperti STNK.

Kelengkapan surat bagi para anggota yang hobi mobil ini dituturkan langsung oleh Wakil Sekjen PPMKI Musbar Muluk. Seperti yang dilansir dari DetikOto (04/06/2019), Musbar mengatakan, "Harus demikian (punya surat-surat resmi). Setahu saya, setiap ada event nasional, copy STNK dilampirkan. STNK kemudian akan dicocokan dengan fisik kendaraannya."

Event yang dimaksudkan Mustar meliputi acara-acara rutin PPMKI seperti touring, reli, dan pameran otomotif. Kelengkapan surat mobil klasik menjadi amat penting tatkala terjadi pemeriksaan oleh pihak kepolisian. Tidak jarang, polisi memberhentikan mobil-mobil berusia lawas sekedar untuk menanyakan kelengkapan surat. Mengingat harga mobil kuno dan retro yang melambung tinggi, surat-surat resmi dibutuhkan untuk mengantisipasi tindak pencurian.

Mobil klasik mungkin menjadi dambaan bagi beberapa orang. Bagi mereka yang pernah menunggang mobil klasik di masa mudanya, menjadi salah satu pemilik mobil lansiran puluhan tahun silam pasti menimbulkan keganggaan dan nilai nostalgia. Menyambung rasa kagum itu, tak sedikit yang menjadikan mobil klasik sebagai koleksi. Kendati demikian, mengkoleksi mobil berusia tua ternyata memiliki kesulitan, khususnya yang berkaitan dengan kelengkapan surat mobil klasik.

Terkadang pertemuan seseorang dengan mobil klasik dapat terjadi di waktu-waktu yang tidak terduga. Pertambahan koleksi mobil lansiran lawas di kalangan anggota PPMKI tidak jarang pula membuat pusing pemiliknya lantaran mobil yang didapat sudah tidak memiliki surat. Selain itu, ada pula anak-anak muda yang berkeinginan merestorasi atau memacu mobil-mobil tua peninggalan orang tua atau kakek-nenek mereka, tetapi tidak menahu dimana surat-suratnya disimpan.

Akibatnya, mobil-mobil tua tak bersurat tersebut hanya teronggok di garasi tanpa pernah menggilas jalanan aspal. Tentu ini menjadi suatu hal yang disayangkan. Kendala ini sudah lama menjadi perhatian mantan ketua umum PPMKI Bambang Rus Effendi. Semenjak menjabat ketua umum di awal tahun 2000-an hingga melepas jabatan ketua umum pada tahun 2014, Bambang ingin sekali agar mobil klasik tak bersurat milik anggota dapat diikutsertakan secara khusus dalam acara PPMKI.

"Tapi saya masih punya obsesi lain, seperti kemudahan anggota untuk bisa kembali menjalankan mobil kunonya. Banyak anggota yang punya mobil, tapi surat-suratnya hilang. Jadi kasihan kan mobilnya cuma jadi pajangan saja," tutur Bambang, seperti dilansir dari motormobile.net (04/06/2019).

Menurut Bambang, guna menanggapi masalah tersebut pihaknya sudah beberapa kali melakukan lobi kepada pihak terkait, seperti kepolisian dan dispenda. Asalkan tidak melanggar peraturan lalu lintas, Bambang mengharapkan mobil-mobil klasik tetap diizinkan mengaspal dalam lingkungan terbatas.